PUPUK
CAIR
MANAJEMEN TEKNOLOGI
AGRIBISNIS
Disusun
Oleh :
REPI YANA
14542010309
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
ANTAKUSUMA
PANGKALAN
BUN
2016
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar……………………………………………………..............…………..i
Daftar
Isi………………………………………………………………….............……ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang…………………………………….…...........……………1
1.2 Rumusan
Masalah……………………………..…………….........………1
1.3 Tujuan........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jamur
Tiram....………….…………...………...…….............3
2.2 Alat dan
Bahan.........................................................................................4
2.3 Proses
Pencampuran Bahan......................................................................5
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan………………………………………………………............6
3.2
Saran.........................................................................................................6
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kotoran sapi, urin dan susu dapat
diolah menjadi pupuk cair, sebagai sumber nutrisi tanaman. Kotoran sapi
merupakan bahan yang baik untuk pupuk cair karena relatif tidak terpolusi logam
berat dan antibiotik. Kandungan fosfor yang rendah pada pupuk kandang dapat
dipenuhi dari sumber lain.
Penggunaan pupuk
cair tidak hanya sebagai penyedia unsur hara, tetapi lebih diutamakan
untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Telah terbukti bahwa produk
organikterutama pupuk cair, mampu menjaga kesimbangan alam. Bahan organik
seperti kompos memiliki peran penting dalam menjaga efektivitas dan efisiensi
penyerapan unsur haradalam tanah. Tidak hanya itu, pupuk cair dapat pula
meningkatkan kapasitas tukar kation, menambah kemampuan tanah dalam menahan
air, meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah, serta mampu meningkatkan pH
pada tanah asam. Berdasarkan beberapa di atas, maka hal inilah yang
melatarbelakangi dibuatnya makalah pada Mata Kuliah Manajemen Ternak Perah
mengenai Pembuatan Pupuk cair.
Tujuan Pembuatan Pupuk Cair adalah
untuk memanfaatkan limbah organik ternak sebagai sumber daya alam yang berdaya
guna tinggi (pupuk organik) dan untuk mengurangi polusi lingkungan yang
diakibatkan oleh ternak.
Adapun kegunaan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memanfaatkan
limbah organik ternak menjadi pupuk Cair sehingga tidak dipandang sebagai
sampah dan polusi lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pupuk
Pupuk adalah suatu bahan yang
bersifat organik ataupun anorganik, bila ditambahkan ke dalam tanah ataupun
tanaman dapat menambah unsur hara serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia,
dan biologi tanah, atau kesuburan tanah. Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni
pupuk organik dan pupuk anorganik.
2.2 Pupuk
organik
Pupuk organik adalah pupuk yang
terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan
(dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Pupuk organik mempunyai komposisi
kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut
rendah.Adapun jenis-jenis dari pupuk organik itu sendiri seperti pupuk kandang,
pupuk kompos, pupuk cair, dan sebagainya.
2.3 Pupuk cair organik
Pupuk organik cair adalah pupuk
berfasa cair yang dibuat dari bahan-bahan organik melalui proses pengomposan.
Terdapat dua macam tipe pupuk
organik cair yang dibuat melalui proses pengomposan. Pertama adalah pupuk
organik cair yang dibuat dengan cara melarutkan pupuk organik yang telah jadi
atau setengah jadi ke dalam air. Jenis pupuk yang dilarutkan bisa berupa pupuk
hijau, pupuk kandang, pupuk kompos atau campuran semuanya. Pupuk organik cair
semacam ini karakteristiknya tidak jauh beda dengan pupuk organik padat, hanya
saja wujudnya berupa cairan. Dalam bahasa lebih mudah, kira-kira seperti teh
yang dicelupkan ke dalam air lalu airnya dijadikan pupuk.Pupuk cair tipe ini
suspensi larutannya kurang stabil dan mudah mengendap. Kita tidak bisa
menyimpan pupuk tipe ini dalam jangka waktu lama. Setelah jadi biasanya harus
langsung digunakan. Pengaplikasiannya dilakukan dengan cara menyiramkan pupuk
pada permukaan tanah disekitar tanaman, tidak disemprotkan ke daun.
Kedua adalah pupuk organik cair yang
dibuat dari bahan-bahan organik yang difermentasikan dalam kondisi anaerob
dengan bantuan organisme hidup. Bahan bakunya dari material organik yang belum
terkomposkan. Unsur hara yang terkandung dalam larutan pupuk cair tipe ini
benar-benar berbentuk cair. Jadi larutannya lebih stabil. Bila dibiarkan tidak
mengendap. Oleh karena itu, sifat dan karakteristiknya pun berbeda dengan pupuk
cair yang dibuat dari pupuk padat yang dilarutkan ke dalam air.
2.4 Kandungan Unsur Hara Pupuk Cair
Limbah ternak berupa fase dan urine
mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat tinggi. Kandungan ini dibutuhkan
oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan kompos .
Secara kimiawi pupuk organik yang
baik mengandung beberapa unsur hara seperti Nitrogen (N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205)
= 0,5 – 1% dan kalium (K20) = 0,5 – 1%.
Menyatakan bahwa urine ternak umumnya
memiliki kandungan hara yang lebih tinggi dibandingkan kototran padat, sehingga
pada aplikasinya tidak sebanyak penggunaan pupuk organik padat.
Unsur-unsur mineral dalam air susu
yang relatif terdapat dalam konsentrasi yang cukup tinggi yaitu Kalsium 0,112%,
Phosfor 0,095%, Kalium 0,138%, Magnesium 0,013%, Natrium 0,095%, Klorin0,109%,
dan Beelerang 0,01%. Unsur-unsur yang terdapat dalam konsentrasi yang rendah
yaitu Besi 3,0ppm, Siolikon2,0ppm, Tembaga 0,3ppm dan
Fluorin 0,25ppm. Sedangkan unsur-unsur mineral klumit atau ”trace-element” dalam
susu adalah aluminium, mangan, jod, boron, titanium, vanadium, lithiumdan strontium . Susu
sapi kaya akan mineral Ca, P, K, Cl, dan Zn; tetapi rendah akan mineral Mg, Fe,
Cu, dan Mn. Dedak yang tersedia untuk peternak merupakan sumber P yang baik
untuk ruminansia.
2.5 Faktor-faktor yang
mempengaruhi proses pembuatan pupuk cair organik
Pembuatan pupuk organik cair dipengaruhi oleh beberapa faktor :
> Nilai C/N Bahan
C/N berfungsi untuk meningkatkan
kesuburan pada tanah. Penambahan bahan organik dengan nisbah C/N tinggi
mengakibatkan tanah mengalami perubahan imbangan C/N dengan cepat, karena
mikroorganisme tanah menyerang sisa pertanaman. C/N juga berfungsi untuk
menyeimbangkan ketersediaan nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.
Apabila bahan organik yang diberikan ke tanah mempunyai nisbah C/N tinggi, maka
mikroorganisme tanah dan tanaman akan berkompetisi memanfaatkan nitrogen dan
tanaman selalu kalah disamping karbohidrat yang dijadikan sebagai sumber
energi dan pertumbuhan mikroba, ternyata juga dibutuhkan N dan P.
Bahan-bahan yang terakhir ini diasimilir menjadi bahan tubuhnya. Dengan jalan ini
protein tumbuhan dialihkan menjadi protein mikroba.
Rasio C/N yang efektif untuk proses
pembuatan pupuk cair berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Pada rasio C/N di antara
30 hingga 40, mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis
protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi lambat. Selama proses itu, rasio C/N akan
terus menurun.Pupuk cair yang langsung dapat digunakan memiliki rasio C/N nya
kurang dari 20.
Perbandingan dari C/N pupuk cair
dapat diperhitungkan dari berbagai senyawa yang menyusun unsur hara
tanah. Unsur har tanah rata-rata mengandung bahan-bahan sebagai berikut :
Bahan
|
Komposisi
|
Kandungan C
|
Lignin
|
45%
|
28.80%
|
Protein
|
35%
|
17.50%
|
Karbohidrat
|
11%
|
4.84%
|
Lemak, Damar dan Lilin
|
3%
|
2.10%
|
Tidak diketahui
|
6%
|
3.00%
|
TOTAL
|
100%
|
56.24%
|
Total kandungan karbon dalam unsur
hara tanah adalah 56.24 persen. Sementara itu Kadar N dalam protein adalah 16
persen, sedangkan unsur hara mengandung 35 persen protein, jadi kadar N dalam
unsur hara adalah 35 x 0.16 = 5.6 persen. Oleh karena itu hasil bagi C/N
rata-rata adalah 56.24 / 5.6 = 10.04 persen. Hubungan C dan N ini di
dalam unsur hara berada dalam keadaan hampir konstan, berada pada nilai antara
10 sampai 12.Oleh karena itulah nilai C/N ratio 10 - 12 ini dapat dianggap
sebagai acuan dalam pembuatan pupuk. Dari hasil penelitian dan uji coba
pembuatan pupuk, telah diketahui bahwa untuk mendapatkan C/N ratio 10 –
12, maka diperlukan campuran bahan baku dengan C/N ratio 30.
Jenis Bahan Organik
|
Kandungan C/N
|
Urine ternak
|
0,8
|
Kotoran ayam
|
5,6
|
Kotoran sapi
|
15,8
|
Kotoran babi
|
11,4
|
Kotoran manusia (tinja)
|
6-10
|
Darah
|
3
|
Tepung tulang
|
8
|
Urine manusia
|
0,8
|
Eceng gondok
|
17,6
|
Jerami gandum
|
80-130
|
Jerami padi
|
80-130
|
Ampas tebu
|
110-120
|
Jerami jagung
|
50-60
|
Sesbania sp.
|
17,9
|
Serbuk gergaji
|
500
|
Sisa sayuran
|
11-27
|
Tabel 1. Kandungan C/N dari
berbagai sumber bahan organic
A.Kandungan NPK
Pupuk yang sudah matang
memiliki kandungan hara kurang lebih: 1,69% N, 0,34% P2O5, dan 2,81% K. dengan
kata lain, dalam seratus liter pupuk cair setara dengan 1,69 liter urea, 0,34
liter SP-36, dan 2,81 liter KCl.
Nitrogen (N) berperan penting dalam
merangsang pertumbuhan vegetatif dari tanaman. Selain itu N merupakan penyusun
plasma sel dan berperan penting dalam pembentukan protein.
Fosfor (P) adalah unsur hara makro
kedua setelah nitrogen yang banyak dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya dan
diserap tanaman dalam bentuk ion. Sumber utama fosfor di dalam tanah berasal
dari pelapukan mineral-mineral yang mengandung fosfat.
Kalium (K) adalah unsur hara makro
yang banyak dibutuhkan tanaman, dan diserap tanaman dalam bentuk ion K+. Di
dalam tubuh tanaman kalium bukanlah sebagai penyusun jaringan tanaman, tetapi
lebih banyak berperan dalam proses metabolisme tanaman seperti mengaktifkan
kerja enzim, membuka dan menutup stomata, transportasi hasil-hasil
fotosintesis, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan
penyakit tanaman.
B.Ukuran bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil
akan lebih cepat proses pengomposan pupuknya karena semakin luas
bahan yang tersentuh bakteri.
C. Komposisi bahan
Pembuatan pupuk cair dari beberapa
macam bahan akan lebih baik dan lebih cepat. Pembuatan pupuk bahan organik dari
tanaman akan lebih cepat bila ditambah dengan kotoran hewan.
D.Suhu
Faktor suhu sangat berpengaruh
terhadap proses pembuatan pupuk karena berhubungan dengan jenis mikroorganisme
yang terlibat. Suhu optimum untu pembuatan pupuk adalah 40-60 0C. Bila suhu
terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila suhu relatif rendah
mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.
E.Sifat dan karakteristik pupuk
organik cair
Pupuk organik cair tidak bisa
dijadikan pupuk utama dalam bercocok tanam. Sebaiknya gunakan pupuk organik
padat sebagai pupuk utama/dasar. Pupuk organik padat akan tersimpan lebih lama
dalam media tanam dan bisa menyediakan hara untuk jangka yang panjang.
Sedangkan, nutrisi yang ada pada pupuk cair lebih rentan terbawa erosi. Namun
di sisi lain, lebih mudah dicerna oleh tanaman.
Jenis pupuk cair lebih efektif dan
efesien jika diaplikasikan pada daun, bunga dan batang dibanding pada media
tanam (kecuali pada metode hidroponik). Pupuk organik cair bisa berfungsi
sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat
perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah
dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan
melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya.
Pemberian pupuk organik cair lewat
daun harus hati-hati. Jaga jangan sampai overdosis, karena bisa mematikan
tanaman. Pemberian pupuk daun yang berlebih juga akan mengundang hama dan
penyakit pada tanaman
Setiap tanaman mempunyai kapasitas
dalam menyerap nutrisi sebagai makanannya. Secara teoritik, tanaman hanya
sanggup menyerap unsur hara yang tersedia dalam tanah tidak lebih dari 2% per
hari. Pada daun, meskipun kami belum menemukan angka persisnya, bisa
diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2%. Oleh karena itu pemberian pupuk
organik cair pada daun harus diencerkan terlebih dahulu.
Karena sifatnya sebagai pupuk
tambahan, pupuk organik cair sebaiknya kaya akan unsur hara mikro. Sementara
unsur hara makro dipenuhi oleh pupuk utama lewat tanah, pupuk organik cair
harus memberikan unsur hara mikro yang lebih. Untuk mendapatkan kandungan hara
mikro, bisa dipilah dari bahan baku pupuk.
Cara membuat pupuk organik cair
- Siapkan
bahan-bahan berikut: 1 karung kotoran ayam, setengah karung dedak, 30 kg
hijauan (jerami, gedebong pisang, daun leguminosa), 100 gram gula merah, 50 ml
bioaktivator (EM4), air bersih secukupnya.
- Siapkan
tong plastik kedap udara ukuran 100 liter sebagai media pembuatan pupuk, satu
meter selang aerotor transparan (diameter kira-kira 0,5 cm), botol plastik
bekas akua ukuran 1 liter. Lubangi tutup tong seukuran selang aerotor.
- Potong
atau rajang bahan-bahan organik yang akan dijadikan bahan baku. Masukkan
kedalam tong dan tambahkan air, komposisinya: 2 bagian bahan organik, 1 bagian
air. Kemudian aduk-aduk hingga merata.
- Larutkan
bioaktivator seperti EM4 dan gula merah 5 liter air aduk hingga merata.
Kemudian tambahkan larutan tersebut ke dalam tong yang berisi bahan baku pupuk.
- Tutup tong dengan
rapat, lalu masukan selang lewat tutup tong yang telah diberi lubang. Rekatkan
tempat selang masuk sehingga tidak ada celah udara. Biarkan ujung selang yang
lain masuk kedalam botol yang telah diberi air.
- Pastikan
benar-benar rapat, karena reaksinya akan berlangsung secara anaerob. Fungsi
selang adalah untuk menyetabilkan suhu adonan dengan membuang gas yang
dihasilkan tanpa harus ada udara dari luar masuk ke dalam tong.
- Tunggu
hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup tong cium bau
adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.
- Pisahkan
antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain.
Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.
- Masukkan
cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup
rapat. Pupuk organik cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik,
pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.
Standar Kualitas Pupuk Organik Cair
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Min
|
Maks
|
1
|
Kadar Air
|
%
|
50
|
17
|
2
|
Temperatur
|
Suhu air tanah
|
||
3
|
Warna
|
kehitaman
|
||
4
|
Bau
|
Berbau tanah
|
||
5
|
Ukuran partikel
|
Mm
|
0.55
|
25
|
6
|
Kemampuan ikat air
|
%
|
58
|
|
7
|
pH
|
6.80
|
7.49
|
|
8
|
Bahan asing
|
%
|
1.5
|
|
Unsur makro
|
||||
9
|
Bahan organik
|
%
|
27
|
58
|
10
|
Nitrogen
|
%
|
0.40
|
|
11
|
Karbon
|
%
|
9.80
|
32
|
12
|
Phosphor
|
%
|
0.10
|
|
13
|
C/N rasio
|
10
|
20
|
|
14
|
Kalium
|
%
|
0.20
|
|
Unsur lain
|
||||
25
|
Calsium
|
%
|
||
26
|
Magnesium
|
%
|
0.60
|
|
27
|
Besi
|
%
|
2.0
|
|
28
|
Alumunium
|
%
|
2.20
|
|
29
|
Mangan
|
%
|
0.10
|
|
Bakteri
|
||||
30
|
Fecal coli
|
MPN/gr
|
1000
|
|
31
|
Salmonella
|
MPN/gr
|
3
|
|
SNI : 19-7030-2004
(Badan Standarisasi Nasional, 2011).
2.6 Aplikasi/Penggunaan pupuk
organik cair
Pupuk organik cair diaplikasikan
pada daun, bunga atau batang. Caranya dengan mengencerkan pupuk dengan air
bersih terlebih dahulu kemudian disemprotkan pada tanaman. Kepekatan pupuk
organik cair yang akan disemprotkan tidak boleh lebih dari 2%. Pada kebanyakan
produk, pengenceran dilakukan hingga seratus kalinya. Artinya, setiap 1 liter
pupuk diencerkan dengan 100 liter air.
Untuk merangsang pertumbuhan daun,
pupuk organik cair bisa disemprotkan pada tanaman yang baru bertunas. Sedangkan
untuk menghasilkan buah, biji atau umbi, pupuk disemprotkan saat perubahan fase
tanaman dari vegetatif ke generatif. Bisa disemprotkan langsung pada bunga ataupun
pada batang dan daun. Setiap penyemprotan hendaknya dilakukan dengan interval
waktu satu minggu jika musim kering atau 3 hari sekali pada musim hujan. Namun
dosis ini harus disesuaikan lagi dengan jenis tanaman yang akan disemprot.
Pada kasus pemupukan untuk
pertumbuhan daun, gunakan pupuk organik cair yang banyak mengandung nitrogen.
Caranya adalah dengan membuat pupuk dari bahan baku kaya nitrogen seperti
kotoran ayam, hijauan dan jerami. Sedangkan pada kasus pemupukan untuk
pertumbuhan buah, gunakan bahan baku pupuk yang kaya kalium dan fosfor, seperti
kotoran kambing, kotoran sapi, sekam padi dan dedak. Kandungan setiap jenis
material organik bisa dilihat di tabel berikut.
Secara sederhana bisa dikatakan,
untuk membuat pupuk perangsang daun gunakan sumber bahan organik dari jenis
daun-daunan. Sedangkan untuk membuat pupuk perangsang buah gunakan bahan
organik dari sisa limbah buah seperti sekam padi atau kulit buah-buahan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil
pembahasan mengenai Pupuk Cair maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa pupuk
cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari
sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari
satu unsure.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Proses Pembuatan Pupuk Organik Cair antara lain ukuran bahan,
komponen bahan, suhu atau Temperatur dan Keasaman (pH)
Limbah ternak berupa feses dan urine
mengandung nitrogen dan fosfor yang sangat tinggi. Kandungan ini dibutuhkan
oleh tumbuhan sehingga dijadikan bahan dasar pembuatan pupuk cair. Secara
kimiawi pupuk organik yang baik mengandung beberapa unsur hara seperti Nitrogen
(N) = 1.5 – 2%, fosfor (P205) = 0,5 – 1% dan kalium (K20)
= 0,5 – 1%
Daftar Pustaka
Djaja. 2008. Pengelolaan
Limbah Ternak (Feces) Sapi Dengan Menggunakan Em-4 Dan Stardec. www.katobengke.com. Diakses, 18
April 2009.
teknologi kompos.
Diakses, 18 April 2009.
3.Indriani. 2003. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Isroi. 2008. Kompos.
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia,
Novizan. 2002. Membuat Kompos. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Nurhidayat. 2006. Fungsi dan Manfaat EM-4. http://nita/agronomy
agriculture/fungsi_manfaat_EM-4.htm. Diakses, 19
April 2009.
5.http://gintingchemicalengeneeringa2.blogspot.co.id/2014/04/pembuatan-pupuk-cair-organik.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar